Tag
Perkembangan Obat HIV Di Indonesia

Perkembangan Obat Hiv Di Indonesia

17, June 2017

Perkembangan Obat HIV Di Indonesia

Ketika HIV-AIDS ditemukan pada 1981, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu bagai hukuman mati bagi penyandangnya. Tiga puluh tahun kemudian, obat HIV semakin berkembang dan para aktivis terus bekerja keras memastikan layanan kesehatan yang memadai bagi penyandang HIV-AIDS. Kini sebagian besar penyandang HIV-AIDS dapat hidup lebih sehat dan penuh semangat.

Obat-obatan antivirus tersebut telah mengalami perjalanan panjang. Berikut adalah rekam jejak perkembangan pengobatan HIV-AIDS, dari percobaan pertama hingga pengobatan eksperimental paling mutakhir:

9 Maret 1987: Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat mengesahkan penggunaan obat antiretrovirus (ART) pertama, yaitu zidovudine (AZT). Obat tersebut memperlambat pertumbuhan virus dan, pada kasus tertentu, juga mencegah persebarannya. Kongres mengalokasikan dana darurat sebesar 30 USD untuk menanggulangi persebaran AIDS di Amerika Serikat.

BPOM Amerika Serikat juga mengeluarkan peraturan untuk mempercepat perkembangan obat-obatan retrovirus lainnya.

Juni 1995: BPOM Amerika Serikat memberi izin pemanfaatan protease inhibitor pertama yaitu saquinavir, yang mampu menghentikan persebaran virus. Saquinavir juga mampu memblok enzim yang diproduksi HIV/AIDS ketika akan menginfeksi sel tubuh sehat. Penemuan ini membuka pintu bagi jenis pengobatan baru.

26 September 1997: BPOM Amerika Serikat memberi izin edar berupa pil yang merupakan kombinasi dari dua jenis obat-obatan antivirus. Berkat pil tersebut, Combivir namanya, penyandang HIV-AIDS dapat mengirit jumlah obat-obatan yang perlu dikonsumsi.

1998: Permulaan bagi percobaan klinis untuk vaksin bernama AIDSVAX. Namun di kemudian hari vaksin tersebut tidak terbukti memberikan perlindungan yang signifikan.

2006: Pil pertama yang disahkan BPOM Amerika Serikat, merupakan kombinasi dari tiga jenis obat-obatan. Pil tersebut, Atripla, hanya perlu dikonsumsi sekali dalam sehari.

9 Juli 2016: Sebuah penelitian di Afrika Selatan ditampilkan pada Konferensi AIDS Internasional menunjukkan bahwa mikrobisida untuk vagina yang bersifat antiretrovirus, membantu mengurangi risiko penularan virus bagi perempuan. Mikrobisida tersebut biasanya diaplikasikan dalam bentuk gel, krim, atau pil padat berbentuk peluru (supositoria).