Obat Kombinasi Hiv

20, June 2017

Obat Kombinasi HIV

HIV kini bukan akhir segalanya. Dengan kemajuan diagnosis dan terapi antiretroviral sejak dini, orang yang terinfeksi HIV memiliki harapan hidup lebih panjang dan bisa menjalani hidup yang produktif. Bahkan, konsumsi obat HIV itu mampu mencegah penularan virus ganas tersebut dari ibu ke bayinya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 33 juta orang kini hidup dengan HIV dan lebih dari 30 juta di antaranya tinggal di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah. Dari total jumlah itu, diperkirakan sedikitnya 9,7 juta orang butuh obat-obatan antiretroviral (ARV).

Pada akhir tahun 2008 sekitar 4 juta orang di negara berkembang menerima ARV. Sekitar 285.000 anak menerima manfaat dari program ARV pada anak atau meningkat 45 persen daripada tahun sebelumnya.

Meski tidak bisa menyembuhkan, terapi ARV bisa memperpanjang hidup pengidap HIV positif dan membuat mereka hidup lebih produktif. Terapi ini mampu mengurangi jumlah virus HIV dalam darah dan meningkatkan jumlah sel CD4 positif (jumlah limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi).

Obat-obatan ARV digunakan dalam terapi untuk infeksi HIV. Obat-obatah ini melawan infeksi dengan memperlambat replikasi virus HIV dalam tubuh.

Ini berarti menghambat penyebaran virus dengan mengganggu proses reproduksi virus. Dalam sel yang terinfeksi, virus memperbanyak diri sehingga bisa menginfeksi sel-sel lain yang masih sehat.

Prof Samsuridjal Djauzi, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, mengatakan bahwa makin banyak sel terinfeksi, kekebalan tubuh kian turun.

Trizivir adalah obat oral kombinasi yang digunakan untuk mengobati infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Trizivir mengandung abacavir (Ziagen), lamivudine (Epivir) dan AZT (Retrovir), yang merupakan tiga obat anti-HIV yang berbeda dengan mekanisme aksi yang juga berbeda.

Obat anti HIV sering digunakan dalam kombinasi untuk meningkatkan penekanan HIV dan untuk mengurangi kemungkinan resistensi virus HIV yang dapat berkembang untuk setiap obat tunggal.

Menggabungkan ketiga obat menjadi satu pil, dapat mengurangi jumlah obat yang harus dikonsumsi oleh seseorang. Sehingga lebih mudah bagi pasien untuk menepati aturan mengonsumsi obat-obatan untuk terapi.

Pemberian satu tablet Trizivir sama dengan pemberian 300 mg abacavir, 150 mg lamivudine, dan 300 mg AZT bersama-sama. Namun, Trizivir tidak mengurangi penularan HIV di antara individu, dan tidak menyembuhkan HIV atau AIDS. Trizivir telah disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA) pada bulan November tahun 2000. Obat ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.

Komposisi

Satu tablet mengandung, antara lain:

  1. 300 mg abacavir
  2. 150 mg lamivudine
  3. 300 mg zidovudine

Indikasi

Trizivir digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat anti-HIV lainnya untuk pengobatan infeksi HIV.

Dosis

Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah satu tablet 2 kali sehari.

Efek Samping

Trizivir menyebabkan efek samping sama seperti obat komponennya, yaitu abacavir, lamivudine, dan AZT. Efek samping yang paling umum, antara lain:

  1. Mual
  2. Diare
  3. Muntah
  4. Penurunan berat badan
  5. Kesulitan tidur

Reaksi hipersensitivitas yang serius yang dikaitkan dengan abacavir yang merupakan salah satu komponen dari Trizivir, juga kadang-kadang fatal dan dapat melibatkan beberapa organ. Gejala reaksi hipersensitif tersebut dapat termasuk:

  1. Demam
  2. Ruam
  3. Mual
  4. Muntah
  5. Diare
  6. Tenggorokan sakit
  7. Sakit perut
  8. Kelelahan
  9. Nyeri
  10. Sesak napas

Pasien harus menghentikan Trizivir jika diduga terjadi reaksi hipersensitivitas. Pasien yang membawa penanda genetik tertentu yang disebut HLA-B 5701 berada pada risiko tinggi untuk mengalami reaksi hipersensitivitas terhadap abacavir. Skrining untuk alel HLA-B 5701 dianjurkan sebelum memulai terapi dengan abacavir.