Obat Hiv Ibu Hamil

7, June 2017

Obat HIV Ibu Hamil

Pada sebuah diskusi hari AIDS dan ODHA yang pernah saya ikuti beberapa Tahun lalu telah memberikan sebuah pengalaman baru dalam hal mendapatkan informasi tentang penyakit AIDS yang tergolong mematikan akibat virus HIV yang merusak sistem imunitas (kekebalan) tubuh manusia.

Seingat saya waktu itu tahun 2010 menjelang peringatan hari AIDS sedunia dengan Topik pembahasan mengenai semakin meningkatnya jumlah penderita HIV AIDS di Indonesia dan solusinya.

Semula saya merasa tidak terlalu perduli, namun beberapa tahun kemudian barulah Saya merasakan hal ini sangat berguna dalam berkampanyae dan berbagi informasi penting tentang HIV AIDS yang bahkan obat HIV belum benar-benar ditemukan hingga hari ini. Namun ada hal menarik bagi saya mengenai topik tentang HIV AIDS dan ODHA pada diskusi tersebut.

Kita mengetahui bahwa HIV AIDS bisa menular lewat seks bebas, lewat jarum suntik bergantian (Narkoba), ataupun beberapa hal umum lainnya. Lalu pertanyaannya bagaimana jika seorang ibu yang mengidap HIV ingin menikah dan hamil? Tentunya Ibu ODHA hamil tersebut akan melahirkan bayi yang positif HIV dan memiliki Air Susu (ASI) disertai virus HIV juga.

HIV, virus penyebab AIDS, dapat menular dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya yang baru lahir. Menurut WHO, sampai 30% bayi lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular HIV kalau ibunya tidak memakai terapi antiretroviral (ART). Bila ibu terinfeksi HIV menyusui bayi, risiko keseluruhan naik menjadi 35-50%.

Ibu dengan viral load HIV yang tinggi lebih mungkin menularkan infeksi pada bayinya. Kebanyakan ahli menganggap bahwa risiko penularan pada bayi sangat amat rendah bila viral load ibu di bawah 1000 waktu melahirkan.

Walaupun janin dalam kandungan dapat terinfeksi, sebagian besar penularan terjadi dalam proses melahirkan. Bayi lebih mungkin tertular jika persalinan berlanjut lama. Selama persalinan, bayi dalam keadaan berisiko tertular oleh darah ibunya.

Harus diketahui bahwa seorang laki-laki dengan HIV tidak bisa menularkan virusnya langsung pada bayi. Namun laki-laki tersebut dapat menularkan pasangan perempuan waktu berhubungan seks untuk membuat anak.

Bila ibu baru tertular HIV pada akhir masa kehamilan, viral loadnya akan sangat tinggi waktu melahirkan anak, yang berarti risiko bayi terinfeksi HIV waktu lahir paling tinggi. Oleh karena itu pasangan laki-laki terinfeksi HIV harus menghindari hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan perempuan yang HIV-negatif waktu dia hamil.

Bila seorang ibu berperilaku berisiko penularan HIV selama kehamilan, sebaiknya dia dites HIV pada setiap trimester dan tiga bulan setelah berperilaku berisiko.

Pada masa Kini, untuk menyelamatkan sang jabang bayi agar lahir normal dan bebas dari virus HIV dapat dilakukan lewat cara yang disebut intevensi ARV (terapi Anti Retroviral Treatment). Proses penyelamatan bayi dari Ibu ODHA yang sedang hamil tentu tidak mudah. Sebab proses tersebut harus mengikuti beberapa syarat diantaranya:

1.Proses penyelamatan harus dipersiapkan sejak dini (sesegera mungkin) sejak perencanaan hamil.

2.Ibu bayi harus memulai terapi zidovudine atau AZT untuk mengawali proses terapi penyesuaian tubuh pada ODHA.

3.Lalu kemudian sang ibu dan jabang bayi dilakukan intervensi/terapi ARV agar menekan jumlah virus sehingga sang bayi dapat lahir normal.

4.Ibu hamil melahirkan lewat operasi dan jangan menyusui.

Terapi antiretroviral/ARV/HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy)dalam program PMTCT(Prevention Motherto Child Transmission – PPIA = Pencegahan Penularan Ibu ke Anak)adalah penggunaan obat antiretroviral jangka panjang (seumur hidup)untuk mengobati perempuan hamil HIV positif dan mencegah penularan HIV dari ibu ke anak.

Untuk Teknis lengkap Pemberian obat antiretroviral dalam program PMTCT/PPIA dapat dilihat pada buku Pedoman Nasional Pengobatan ARV Kemenkes.

Mengapa intervensi ARV perlu dilakukan? Hal itu penting karena membuka peluang bayi lahir normal jika sang ibu adalah ODHA. Hal ini akan menekan bayi yang lahir sebagai penderita AIDS yang dapat menambah jumlah penderita AIDS di Indonesia.

Sebab jika sang bayi lahir dengan HIV tentunya akan sangat kasihan sebab bayi yang baru saja baru lahir, yang tidak bersalah, dan tidak tau apa-apa harus menangggung beban berat sebagai penderita AIDS dimasa hidupnya. Sang bayi tentu tidak meminta ia dilahirkan sebagai penderita HIV AIDS.