Obat Hiv Dari Teh Hijau

6, June 2017

Obat HIV Dari Teh Hijau

Apakah yang disebut dengan virus HIV atau penyakit AIDS itu? Sebenarnya penyakit ini timbul akibat virus yang terkena oleh penderita HIV sebelumnya. Misalnya akibat hubungan seksual, dari ibu hamil ke bayinya melalui air susu atau dari tranfusi darah. Virus HIV sendiri atau disebut human immunodeficiency virus.

Hal ini menyebabkan tubuh rentan terkena penyakit karena ketidaknormalan sistem kekebalan tubuh. Jika virus HIV ini sudah bersarang maka timbullah AIDS. AIDS atau singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah lanjutan dari virus HIV ini.

Biasanya dibutuhkan beberapa tahun atau tahap agar virus HIV berkembang menjadi AIDS. Semakin lama virus HIV bercokol di dalam tubuh kita maka kekebalan tubuh semakin melemah dan rentan beragam penyakit. Lama kelamaan barulah AIDS muncul.

Siapa menyangka teh hijau bisa dimanfaatkan untuk obat HIV / AIDS. Dua pengajar Universitas Airlangga, Prof Dr Djoko Purwanto Apt MSi dan Dr Retno Pudji Rahayu, drg, MKes, bekerja sama meneliti teh hijau.

Bedanya, sementara Djoko meneliti efek teh hijau pada pencegahan dan pengobatan kanker, Retno meneliti dampaknya pada pengobatan AIDS/HIV. Pada literatur di dunia penelitian, selain anti kanker, EGCG juga memiliki kemampuan antifungi dan antivirus.

Retno menjelaskan, di dalam HIV terdapat beberapa komponen reseptor glikoprotein (GP). “Nah saya baru mencoba penelitian terhadap GP 120 dan GP 41 yang ada pada permukaan membran virus (envelope),” katanya pekan lalu. (Baca: Obat Tulang Tekan Risiko Kanker)

Teh, kata Retno, diekstraksi menjadi dua bentuk. Pertama, hanya diambil EGCG-nya. Sedangkan kedua, tetap dalam bentuk ekstrak. Hasil ekstraksi ini lalu diujicobakan pada kultur HIV. Hasilnya, ekstrak teh hijau mampu menghilangkan virus dalam kultur, sehingga sel virusnya tidak bisa masuk. “Berarti bisa menghambat ikatan protein atau, singkatnya, menghilangkan HIV ini,” katanya.

Selain menguji coba ekstrak teh dengan kultur HIV, ia juga menguji cobanya pada sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (CD4). Hasilnya pun serupa. Ekstrak teh ini mampu mempengaruhi komponen-komponen dalam virus. Golongan katekin (EGCG), kata Retno, mudah bereaksi dengan protein. “Karena GP 120 diikat, virusnya enggak bisa masuk,” ucapnya.

Karena virus memiliki banyak komponen, dia mengaku memiliki banyak pekerjaan rumah agar hasil penelitiannya optimal. “Kami akan coba ke komponen virus selain GP 120 dan GP 41. Saya ingin meneruskan ini ke komponen yang lain dalam teh hijau, yaitu theaflavin.” Pada 2007, Andriani Primardiana divonis menderita kanker paru-paru stadium metastatis.

Artinya, sel-sel kanker telah menjalar ke jaringan atau organ tubuh di sekitarnya. Harapan untuk mengobatinya juga pupus. “Sudah enggak bisa diapa-apakan. Saya juga alergi kemoterapi, jadi suami saya tidak memperbolehkan saya menjalaninya,” ujar perempuan 48 tahun ini, pekan lalu.

Suaminya, Prof Dr Djoko Purwanto Apt MSi, saat itu berada di Jepang untuk menjalani penelitian teh hijau untuk mencegah dan mengobati kanker. Djoko menjadikan istrinya sebagai obyek penelitian pribadi. Djoko sebenarnya telah meneliti teh sejak 1996, sehingga ia dijuluki “Profesor Teh” di lingkungan kampusnya, Universitas Airlangga, Surabaya.

“Teh itu memiliki komponen aktif bernama Epigallocatechin gallate (EGCG) yang bersifat antioksidan, bisa menyembuhkan kanker,” ujarnya, Rabu lalu. EGCG terbukti secara ilmiah memiliki kemampuan aktif memerangi penyakit. Sifat antioksidan teh bahkan 100 kali lebih tinggi dibanding vitamin C atau 25 kali lipat dibanding vitamin E.