Kunyit Obat Hiv

16, June 2017

Kunyit Obat HIV

Human Immunodeficiency Virus (HIV). Inilah virus yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh manusia. Hari demi hari, virus penyebab penyakit AIDS ini terus memicu keprihatinan dunia, termasuk Indonesia.

Di negeri kita ini, jumlah pengidap HIV/AIDS sudah mencapai 300 ribu orang. Sebagian besar penderita tergolong usia produktif, 15-49 tahun. Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, menjelaskan, kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1987.

Awalnya, peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia tidak begitu cepat. Namun, sejak tahun 2000, peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS sangat mencemaskan dan belum ada obat hiv nya.

Virus ini ada di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Delapan provinsi tercatat memiliki kasus penyebaran HIV/AIDS tertinggi di antaranya Papua, Papua Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Sungguh kondisi yang mengkhawatirkan.

Para ahli epidemiologi Indonesia memperkirakan, bila tidak ada upaya penanggulangan yang berarti, maka pada tahun 2010 jumlah kasus HIV/AIDS akan meningkat menjadi 400 ribu dengan kematian 100 ribu orang. ”Diperkirakan pula, pada akhir tahun 2015 akan terjadi penularan HIV kumulatif lebih dari 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang positif HIV.

Ini data dari Strategi Nasional Penanggulangan HIV/AIDS 2007-2010,” jelas Menristek ketika membuka workshop bertema Upaya Biomedik dalam Eksplorasi Obat Alternatif/Komplementer bagi Pasien HIV/AIDS, di gedung BPPT, Jakarta, Rabu (2/12).

Pengendalian HIV/AIDS adalah isu penting, baik dalam skala nasional maupun global. Karena itu, diperlukan solusi teknologi atas masalah ini. Salah satu caranya, menurut Menristek, adalah dengan program penelitian obat tradisional HIV/AIDS.

”Indonesia kaya dengan flora dan fauna sebagai bahan pembuatan obat-obatan. Karena itu, penelitian obat tradisional diarahkan untuk mencari bukti-bukti ilmiah tentang obat-obat tradisional tersebut sekaligus mencari peluang-peluang lain.”

Kurkuma adalah semacam jamu yang dibuat dari tanaman Curcuma domestica atau Curcuma longa, dari familia (jenis) Zingiberaceae. Jenis lain dalam familia ini termasuk Curcuma xanthorrhizae, yang lebih dikenal sebagai temu lawak, Curcuma heyneana atau temu giring, dan Curcuma aeruginosarhizome, dan biasanya bagian ini yang dipakai untuk membuat jamu atau temu hitam.

Semuanya mempunyai macam akar yang disebut sebagai rimpang (rhizome), dan biasanya bagian ini yang dipakai untuk membuat jamu.

Temu giring dan temu hitam paling sering dipakai untuk pengobatan cacingan. Kurkuma dan temu lawak lebih sering dipakai oleh Odha, dan adalah kandungan dalam kapsul Hepasil, yang dipasarkan oleh Kalbe Farma sebagai ‘hepaprotektor’.

Kurkuma lebih dikenal dalam dapur sebagai kunyit. Kunyit adalah bumbu makan kari, sering juga disebut sebagai turmeric.

Apakah kegunaan kurkuma?

Kandungan aktif kunyit adalah senyawa kimia yang disebut sebagai curcuminoid. Curcuminoid dalam kunyit adalah curcumin (75 persen), demethoxycurcumin (15-20 pesen) dan bisdemethoxycurcumin (kurang lebih 3 persen).

Dalam penelitian, curcuminoid ditemukan mempunyai sifat antioksidan dan antiradang. Pada awal 1990-an, para peneliti juga menemukan bawah curcumin bertindak anti-HIV dalam tabung percobaan.

Namun dua uji coba klinis pada manusia mengambil kesimpulan yang berlawan. Satu, yang dilakukan di Los Angeles pada 1994 mengamati penurunan pada viral load di antara orang yang memakai kurkuma.

Namun sebuah uji coba klinis lain yang dilakukan di AS pada 1996 tidak menemukan bukti bahwa kurkuma dengan takaran tinggi atau rendah berhasil mengurangi viral load atau meningkatkan jumlah sel CD4.

Tampaknya juga, kurkuma dapat melindungi hati dari beberapa senyawa beracun.

Mengapa Odha memakai kurkuma?

Selain anggapan bahwa kurkuma dapat membantu tubuh anda melawan dengan HIV, sifat antiracun pada hati mungkin dapat membantu Odha. Jamu ini dipakai oleh praktisi pengobatan alternatif di Indonesia antara lain untuk mengobati penyakit kuning.

Beberapa obat yang dipakai untuk melawan HIV dapat merusak hati. Orang yang terinfeksi hepatitis B atau C (HBV dan HCV) lebih mungkin mengalami masalah hati waktu memakai obat antiretroviral (ARV). Diharapkan kurkuma dapat membantu mencegah kerusakan pada hati.Bagaimana kurkuma dipakai?

Empu rimpang kunyit dicampur dengan bahan rempah lain kemudian direbus, lalu airnya dipakai sebagai obat minum. Atau kunyit dapat diparut dan ditambah air minum, diperas lalu diminum dua kali sehari.

Kurkuma dapat dibeli sebagai jamu sari kunyit dengan 90-95 persen curcumin, yang dipakai dengan takaran 250-500mg tiga kali sehari.