Komposisi Obat Hiv

19, June 2017

Komposisi Obat HIV

Saat ini teman-teman ODHA mendapatkan sebuah pilihan terapi ARV yang lebih ramah. Yaitu ARV jenis Fixed Dose Combination yang cukup diminum 1 butir 1 kali sehari. Obat HIV ini meskipun hanya 1 butir namun tetap berisi kandungan 3 bahan aktif yang dibutuhkan ODHA.

Ini jelas sangat membantu ODHA karena selama ini ODHA harus meminum ARV dalam bentuk sediaan 2-3 pil dan 1-2 kali sehari sehingga kerap kali persoalan lupa mengancam kepatuhan ODHA meminum ARV. Bagi yang belum tahu, ARV adalah nama obat yang digunakan bagi terapi HIV.

Obat ini telah terbukti bekerja secara efektif untuk menekan HIV dalam darah sampai tingkat tidak terdeteksi. Jika kadar HIV dalam tubuh sampai pada tingkat tidak terdeteksi, maka HIV tidak akan menimbulkan efek merusak kekebalan tubuh sehingga ODHA tersebut bisa terhindar dari infeksi penyakit lain.

Btw, tahu kan perbedaan HIV dan AIDS? Bagi yang belum tahu, nanti kita share perbedaannya.

Obat ARV harus diminum ODHA seumur hidupnya secara tepat waktu tanpa boleh terputus. Jika terputus, karena lupa meminum atau stok yang memang habis di tempat layanan, hal ini bisa memicu resistensi obat ARV dalam tubuh sehingga jenis obat ARV tersebut tidak lagi manjur dan diganti dengan jenis lainnya. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah ARV lini 1 dan lini 2.

Resistensi obat menciptakan persoalan karena jenis ARV yang beredar di Indonesia masih terbatas sehingga ketika terjadi resistensi, akan sulit kita mendapatkan pengganti obatnya. Oleh karena itu, kepatuhan minum obat di lini 1 menjadi penting sebab jenis dan jumlah obat ARV lini 2 kita masih sangat terbatas.

Kehadiran obat ARV 1 x 1 itu sangat membantu ODHA meningkatkan kepatuhan. Karena dengan meminum hanya 1 butir sekali sehari akan mengurangi potensi lupa sehingga obat bisa bekerja efektif dalam tubuh untuk meneken HIV.

Obat ini pun isinya dari jenis bahan aktif ARV terbaru yaitu jenis Tenofofir + Lamivudine + Efavirenz (Tdf+3TC+EVZ). Obat jenis terbaru ini dikenal mempunyai tingkat racun yang rendah bagi tubuh serta mengurangi potensi efek samping yang selama ini kerap kali menghantui ODHA untuk memulai terapi ODHA.

Jika kita mulai terapi ARV (ART), kita mungkin mengalami sakit kepala, darah tinggi, atau seluruh badan terasa tidak enak. Lambat laun, gejala ini biasanya membaik dan hilang.

  1. Masalah pencernaan: Banyak obat dapat menimbulkan rasa nyeri pada perut. Obat dapat menyebabkan mual, muntah, kembung, atau diare. Tanggapan yang lazim dipakai di rumah termasuk:

– Daripada tiga kali makan secara besar, lebih baik makan sedikit tetapi sering.

– Makan sup dan makanan lunak, jangan yang pedas-pedas.

– Teh jahe atau minuman jahe lain dapat menyamankan perut. Begitu juga bau jeruk segar.

– Sering berolahraga.

  1. Jangan melupakan makan. Coba menghindari kehilangan berat badan berlebihan. Ada beberapa obat yang dapat mengurangi rasa mual. Namun hati-hati dengan interaksi antara obat antimual yang dibeli tanpa resep dengan ARV; bahas dengan dokter sebelum memakai obat apa pun.

– Perut kembung dapat dikurangi dengan menghindari makanan seperti buncis, beberapa macam sayuran mentah, dan kulit sayuran.

– Diare (LI 554) dapat berkisar antara gangguan kecil hingga berat. Periksa ke dokter jika diare berjalan terlalu lama atau menjadi berat. Banyak minum.

  1. Anemia (LI 552) dapat menyebabkan kelelahan. Anemia meningkatkan risiko menjadi lebih sakit dengan infeksi HIV. Tes darah berkala dapat mengetahui adanya anemia, dan anemia dapat diobati.
  2. Kelelahan (LI 551): Odha sering melaporkan kadang-kadang merasa lelah. Mengetahui penyebab kelelahan dan menanganinya adalah penting.